Saya ini orang yang hidup di dalam kabut.
Ya, sebuah kabut yang tebal,
Kabut yang menutupi sinar matahari di atas saya,
Sinar yang seharusnya menerangi hari-hari saya,
Kabut yang berisi tentang kenangan masa lalu.
Saya ini orang yang hidup di dalam kabut.
Sudah cukup lama saya berada di dalamnya,
Bukannya saya tidak ingin keluar,
Sering saya mencoba pergi,
Kabutnya terlalu tebal,
Menutupi sinar yang seharusnya menjadi penuntun jalan,
Atau saya yang menutup mata untuk sinar itu?
Saya ini orang yang hidup di dalam kabut.
Berada di dalam kabut ini cukup menyiksa,
Apalagi saya hanya sendiri,
Kesepian,
Menyedihkan,
Gelap.
Sebuah kabut yang harusnya saya tinggalkan sejak dulu.
Saya ini orang yang hidup di dalam kabut.
Tapi percayakah kalian?
Kabut ini terlalu indah untuk ditinggalkan,
Kabut yang kadang memberikan cahaya,
Walau cahaya itu semu,
Cahaya yang saya yakin bukan itu jalan keluarnya,
Kadang samar,
Kadang sangat jelas.
Kabut yang aneh.
Atau saya yang sudah terlalu nyaman berada di dalamnya?
Minggu, 02 Oktober 2011
Kamis, 21 April 2011
BADUT
Malam ini aku senang,
aku bahagia,
aku tersenyum,
aku tertawa,
dan aku gembira.
Setidaknya sisi luarku berkata demikian.
Asal mereka senang aku juga ikut senang,
aku hanya tidak ingin terlihat lemah,
terlihat hancur dan berantakan.
Ada hal yang mereka tidak tahu,
satu sisi dalam hatiku,
sebenarnya aku sedang menangis.
Layaknya badut yang tetap tersenyum walau ia bersedih.
:')
aku bahagia,
aku tersenyum,
aku tertawa,
dan aku gembira.
Setidaknya sisi luarku berkata demikian.
Asal mereka senang aku juga ikut senang,
aku hanya tidak ingin terlihat lemah,
terlihat hancur dan berantakan.
Ada hal yang mereka tidak tahu,
satu sisi dalam hatiku,
sebenarnya aku sedang menangis.
Layaknya badut yang tetap tersenyum walau ia bersedih.
:')
Kamis, 14 April 2011
Mulai Menulis Lagi
Kayaknya udah lama enggak nulis lagi.
Bukannya males ato gak ada ide.
Tapi, enggak ada pulsa internet.
Nah sekarang kita mulai lagi yuk....
Tapi nebeng-nebeng dulu yaaaaa.
Masih enggak ada pulsa sih soalnya...
MARIIIIIII....
dan tetap SENYUM :)
Bukannya males ato gak ada ide.
Tapi, enggak ada pulsa internet.
Nah sekarang kita mulai lagi yuk....
Tapi nebeng-nebeng dulu yaaaaa.
Masih enggak ada pulsa sih soalnya...
MARIIIIIII....
dan tetap SENYUM :)
Jumat, 11 Maret 2011
Tersesat
Aku baru menyadarinya, aku tersesat.
Aku hilang arah, terlalu cepat memutuskan untuk belok ke kiri, padahal tujuanku ke kanan.
Waktu itu gelap, aku tidak bisa melihat jalan. Kabutnya tebal dan aku memang buta arah saat itu.
Aku hanya bisa melihat sebuah lampu yang berpijar indah di depanku, warnanya kuning cerah.
Aku pikir cahanya matahari, ternyata bukan, hanya sebuah lampu kecil.
Tetapi tetap saja lampu itu indah, aku seperti seekor laron yang terbang mendekati lampu itu.
Aku tidak ditarik, tetapi aku tertarik.
Aku mengikuti arah lampu itu saat ia berbelok ke kiri. Bukan ke kanan.
Awalnya sinar lampu itu terang. Terang sekali. Banyak harapan yang di berikan lampu itu, harapan akan tujuan yang jelas, pasti dan akhir dari jalan yang gelap ini, sebuah akhir indah.
Awalnya aku pikir di ujung sana akan ada gunung, pepohonan rindang, sebuah kolam dengan ikan yang banyak dan beberapa ekor hewan yang minum di tepi kolam itu, burung-burung yang berkicau, kupu-kupu warna-wari dan semua yang indah-indah yang bahkan tidak nyata.
Aku ikut cahaya itu, aku yakin pada cahaya itu, cahaya yang indah itu.
Lama aku terbuai dengan pijar cahaya itu.
Aku terus berjalan, tetapi terseok-seok akibat cahaya itu makin redup.
"Hei!! Jangan halangi aku!" Aku marah pada 2 kendaraan di depanku.
Yang satu sebuah mobil mewah, sebuah sedan yang sangat bagus dan mengkilat. Sedan yang orang sangat ingin memilikinya atau mobil lain ingin menjadi seperti dia.
Yang satu juga mewah, tetapi sedan pertama lebih mewah 2 tingkat diatasnya. Suara mesinnya bagus, merdu. Tetapi sedan itu mulai dilupakan akibat kesalahannya terhadap majikannya, jadi sedan itu tidak terawat.
Kelaksonku yang mengeluarkan suara jelek, butu dan aneh tidak dihiraukan.
Ajaib, mobil bututku bisa melaju dan melewati mereka. Mobil bututku hampir menang, dan aku bisa melihat cahaya kuning itu lagi. Terang. Harapan itu kembali datang. Imajinasi indah tetntang tempat tujuan itu kembali tergambar jelas di otakku.
1 mobil mewah terakhir mulai menepi akibat tidak kuat.
Hanya tinggal 1 sedan mewah yang masih berjalan. Jaraknya sangat dekat tetapi terasa jauh. Aneh.
Hingga akhirnya sedan itu ikut menepi. Tidak sanggup. Menyerah.
Aku mulai yakin pada lampu itu. Aku mulai yakin dengan arahnya. Aku ulai yakin dengan imajinasiku tadi.
Sampai akhirnya sebuah sedan bagus, suaranya halus, hanpir tidak terdengar dari situ kita kalau itu adalah mobil yang bagus sekali.
Sedan itu mendekat perlahan tanpa aku tahu kalau dia mulai menyalip mobil bututku.
Cahaya itu mulai redup.
Aku tahu pasti pandangan tertutup oleh sedan tanpa suara itu.
Aku hanya dapat melihat dari tembusan kaca depan sedan itu, sebuah kaca yang dilapisi oleh kaca film yang berwana gelap. Aku hampir tidak dapat melihat isi di dalamnya. Gelap sekali.
Tapi itulah yang membuat sedan itu terlihat bagus dan penuh misteri buatku.
Cahaya itu pun semakiiiiiiiiiin redup.
Hampir tak terlihat lagi.
Dan ku lihat sedan itu sudah sampai di alam yang hanya ada di imajinasiku.
Hal terbaik yang tidak pernah aku bisa sampai di sana, dan tidak pernah bisa aku miliki.
Sebuah cahaya indah berwarna kuning yang memberiku sejuta harapan tentang landscape pemandangan yang indah. Tentang kehidupan yang lebih baik bila berada di sana. Atau malau sebaliknya bila aku berada di sana.
Itu yang tidak pernah aku tahu. Apa yang akan terjadi saat aku sampai.
Aku terlalu jauh melangkah.
Aku tidak melihat sebuah jurang yang menganga akibat kabut itu.
Jurang yang dalam dan gelap, dan mengerikan. Tidak ada di dalam bayanganku mengenai jurang ini. Ini diluar kendaliku.
Dan aku terjatuh, aku mengalami cidera yang parah, cidera yang aku rasa akan sembuh dalam waktu yang lama. Atau bahkan tidak akan pernah sembuh.
Aku terpuruk di dalamnya. Hampir mati. Tanpa cahaya kuning itu lagi. Aku hanya bisa mengungatnya.
Sudah terlalu lama aku berada di dasar jurang itu.
Kini aku berkata pada diriku sendiri. "Naik! Panjat tebing itu! Kamu bisa walaupun sulit!"
Aku mulai memanjat, centi demi centi aku meninggalkan dasar jurang.
Sulit memang, ditambah cidera ini yang belum sembuh sepenuhnya.
Tapi aku bisa "hampir" sampai di atas.
Dan saat kabut itu hilang, aku baru sadar, aku tersesat.
Dan aku tahu aku harus mencari cahaya lain yang dapat menuntunku keluar dari tempai ini.
Atau aku harus menanti cahaya yang akan menghampiriku?
Yang jelas aku tidak mau berlama-lama di sini.
Aku hilang arah, terlalu cepat memutuskan untuk belok ke kiri, padahal tujuanku ke kanan.
Waktu itu gelap, aku tidak bisa melihat jalan. Kabutnya tebal dan aku memang buta arah saat itu.
Aku hanya bisa melihat sebuah lampu yang berpijar indah di depanku, warnanya kuning cerah.
Aku pikir cahanya matahari, ternyata bukan, hanya sebuah lampu kecil.
Tetapi tetap saja lampu itu indah, aku seperti seekor laron yang terbang mendekati lampu itu.
Aku tidak ditarik, tetapi aku tertarik.
Aku mengikuti arah lampu itu saat ia berbelok ke kiri. Bukan ke kanan.
Awalnya sinar lampu itu terang. Terang sekali. Banyak harapan yang di berikan lampu itu, harapan akan tujuan yang jelas, pasti dan akhir dari jalan yang gelap ini, sebuah akhir indah.
Awalnya aku pikir di ujung sana akan ada gunung, pepohonan rindang, sebuah kolam dengan ikan yang banyak dan beberapa ekor hewan yang minum di tepi kolam itu, burung-burung yang berkicau, kupu-kupu warna-wari dan semua yang indah-indah yang bahkan tidak nyata.
Aku ikut cahaya itu, aku yakin pada cahaya itu, cahaya yang indah itu.
Lama aku terbuai dengan pijar cahaya itu.
Aku terus berjalan, tetapi terseok-seok akibat cahaya itu makin redup.
"Hei!! Jangan halangi aku!" Aku marah pada 2 kendaraan di depanku.
Yang satu sebuah mobil mewah, sebuah sedan yang sangat bagus dan mengkilat. Sedan yang orang sangat ingin memilikinya atau mobil lain ingin menjadi seperti dia.
Yang satu juga mewah, tetapi sedan pertama lebih mewah 2 tingkat diatasnya. Suara mesinnya bagus, merdu. Tetapi sedan itu mulai dilupakan akibat kesalahannya terhadap majikannya, jadi sedan itu tidak terawat.
Kelaksonku yang mengeluarkan suara jelek, butu dan aneh tidak dihiraukan.
Ajaib, mobil bututku bisa melaju dan melewati mereka. Mobil bututku hampir menang, dan aku bisa melihat cahaya kuning itu lagi. Terang. Harapan itu kembali datang. Imajinasi indah tetntang tempat tujuan itu kembali tergambar jelas di otakku.
1 mobil mewah terakhir mulai menepi akibat tidak kuat.
Hanya tinggal 1 sedan mewah yang masih berjalan. Jaraknya sangat dekat tetapi terasa jauh. Aneh.
Hingga akhirnya sedan itu ikut menepi. Tidak sanggup. Menyerah.
Aku mulai yakin pada lampu itu. Aku mulai yakin dengan arahnya. Aku ulai yakin dengan imajinasiku tadi.
Sampai akhirnya sebuah sedan bagus, suaranya halus, hanpir tidak terdengar dari situ kita kalau itu adalah mobil yang bagus sekali.
Sedan itu mendekat perlahan tanpa aku tahu kalau dia mulai menyalip mobil bututku.
Cahaya itu mulai redup.
Aku tahu pasti pandangan tertutup oleh sedan tanpa suara itu.
Aku hanya dapat melihat dari tembusan kaca depan sedan itu, sebuah kaca yang dilapisi oleh kaca film yang berwana gelap. Aku hampir tidak dapat melihat isi di dalamnya. Gelap sekali.
Tapi itulah yang membuat sedan itu terlihat bagus dan penuh misteri buatku.
Cahaya itu pun semakiiiiiiiiiin redup.
Hampir tak terlihat lagi.
Dan ku lihat sedan itu sudah sampai di alam yang hanya ada di imajinasiku.
Hal terbaik yang tidak pernah aku bisa sampai di sana, dan tidak pernah bisa aku miliki.
Sebuah cahaya indah berwarna kuning yang memberiku sejuta harapan tentang landscape pemandangan yang indah. Tentang kehidupan yang lebih baik bila berada di sana. Atau malau sebaliknya bila aku berada di sana.
Itu yang tidak pernah aku tahu. Apa yang akan terjadi saat aku sampai.
Aku terlalu jauh melangkah.
Aku tidak melihat sebuah jurang yang menganga akibat kabut itu.
Jurang yang dalam dan gelap, dan mengerikan. Tidak ada di dalam bayanganku mengenai jurang ini. Ini diluar kendaliku.
Dan aku terjatuh, aku mengalami cidera yang parah, cidera yang aku rasa akan sembuh dalam waktu yang lama. Atau bahkan tidak akan pernah sembuh.
Aku terpuruk di dalamnya. Hampir mati. Tanpa cahaya kuning itu lagi. Aku hanya bisa mengungatnya.
Sudah terlalu lama aku berada di dasar jurang itu.
Kini aku berkata pada diriku sendiri. "Naik! Panjat tebing itu! Kamu bisa walaupun sulit!"
Aku mulai memanjat, centi demi centi aku meninggalkan dasar jurang.
Sulit memang, ditambah cidera ini yang belum sembuh sepenuhnya.
Tapi aku bisa "hampir" sampai di atas.
Dan saat kabut itu hilang, aku baru sadar, aku tersesat.
Dan aku tahu aku harus mencari cahaya lain yang dapat menuntunku keluar dari tempai ini.
Atau aku harus menanti cahaya yang akan menghampiriku?
Yang jelas aku tidak mau berlama-lama di sini.
Rabu, 09 Maret 2011
Kamu Mau Cerita Apa?
Semalam kamu SMS aku,
Kata-katanya aku lupa.
Aku udah tidur.
Paginya kamu SMS lagi.
Kata-katanya "Orang mau cerita, diah malah ngilang."
Aku bilang aku udah tidur.
Aku tanya "kamu mau cerita apa memang?"
Kamu enggak jawab.
Malam ini aku udah siap denger cerita kamu.
Tapi kamu enggak SMS aku.
HP aku set ke Volume maximum, getar dan aku taruh di bawah bantal.
Tepat dibawah telinga.
Kalau saat kamu SMS, kapanpun, jam berapapun aku bisa bangun dan balas SMS kamu.
Biarpun harus kaget saat SMS kamu masuk.
Malam ini aku enggak tidur.
Aku enggak bisa tidur nunggu SMS kamu.
Aku enggak mau enggak ada waktu kamu mau cerita.
Aku mau denger kamu cerita.
Karena aku suka kalau kamu lagi cerita.
Tapi kamu enggak SMS aku tuh.
Aku kan cuma mau tahu,
Kamu mau cerita apa?
Kata-katanya aku lupa.
Aku udah tidur.
Paginya kamu SMS lagi.
Kata-katanya "Orang mau cerita, diah malah ngilang."
Aku bilang aku udah tidur.
Aku tanya "kamu mau cerita apa memang?"
Kamu enggak jawab.
Malam ini aku udah siap denger cerita kamu.
Tapi kamu enggak SMS aku.
HP aku set ke Volume maximum, getar dan aku taruh di bawah bantal.
Tepat dibawah telinga.
Kalau saat kamu SMS, kapanpun, jam berapapun aku bisa bangun dan balas SMS kamu.
Biarpun harus kaget saat SMS kamu masuk.
Malam ini aku enggak tidur.
Aku enggak bisa tidur nunggu SMS kamu.
Aku enggak mau enggak ada waktu kamu mau cerita.
Aku mau denger kamu cerita.
Karena aku suka kalau kamu lagi cerita.
Tapi kamu enggak SMS aku tuh.
Aku kan cuma mau tahu,
Kamu mau cerita apa?
Sabtu, 05 Maret 2011
Anak Kecil Yang Selalu Diam
Dia diam.
Selalu diam, tak bersuara.
Tak berbicara, sepatah katapun.
Hari-harinya diam, sunyi, mati.
Sama seperti hatinya.
Tapi tidak dengan masa depannya.
Itu yang dipercaya oleh ibu Siti, pemilik panti asuhan tua itu.
2 tahun lalu ibu Siti lah yang menemukannya menangis di pinggir jalan.
Tangisannya terdengar pelan dan pilu.
Sepilu perasaannya saat itu.
Hujan yang turun membuat tubuh kecilnya kedinginan, gemetar.
"Siapa namamu nak?" Ibu siti bertanya kepadanya seraya memayunginya.
Tapi dia hanya diam.
"Baiklah, ayo ikut ibu, nanti kamu sakit."
Digenggamnya tangan kecil itu dengan erat, tangan yang terasa sangat dingin dan mulai keriput karena kedinginan.
Sesekali bu Siti melihat anak itu, apa yang ia dapat hanya tatapan kosong dan ketakutan. Tatapan yang sangat menyayat hati bu Siti yang selembut kapas. Bu Siti hanya melempar senyum tulus kepadanya. Dan ia tetap diam.
Dua tahun setelah malam itu, dia tetap diam.
Bibir kecil itu tetap tidak berkata apapun, bibir kecil itu masih menyimpan misteri. Misteri yang tidak akan pernah ia katakan, entah sampai kapan.
"HEI BISU!"
Itulah yang sering dilontarkan dari para penghuni panti lain. Dan ia tetap diam.
Mereka tahu ia tidak bisu, mereka tahu ia hanya ingin diam.
Biar mereka berkata apa, lebih baik mereka mengenalku sebagai si bisu.
"Ibu tahu, ada sesuatu yang kamu simpan, tapi ibu tidak memaksamu untuk bercerita, mungkin itu hal paling indah dalam hidupmu sehingga kamu enggan membagikannya dengan kami semua." Kata bu Siti sambil membelai rambutnya lembut.
Terasa nyaman baginya, senyaman tidur dipangkuan ibu yang di rindukannya.
Matanya mulai mendung mendengar perkataan itu, seperti akan ada air yang jatuh dari kelopak matanya. Matanya berkaca-kaca.
"Atau mungkin itu adalah hal terburuk dalam hidupmu yang mungkin kamu terlalu takut untuk mengingatnya dan membaginya kepada kami?" Bati bu Siti.
Dan ia mulai menagis, seakan tahu apa yang ibu Siti fikirkan.
"HEI ANAK BISU!" Benta salah satu anak panti yang lebih senior.
"Tolong, kami sudah cukup repot di sini, jangan menabah beban kami, dengan terus melayani mu, apa kami harus mengetahui isi hatimu tentang apa yang kamu butuhkan? Setidaknya barbicaralah, kami tahu kamu tidak bisu!"
Dia tetap diam.
"HEI BISU, BODOH!" didorongnya tubuh kecil itu hingga terjatuh kelantai dengan pasrah.
Dan mulai didengarnya suara cemo'oh lain yang tidak bisa ia dengar lagi karena bertubi-tubi dilontarkan kepadanya.
Ia pun menangis, dan tanpa suara. Ia berlari, pergi, meninggalkan cemoohan yang masih terdengar sayup-sayup ditelinganya.
"Ibu tahu kamu tidak tahan dengan perlakuan kakak-kakamu, tapi mungkin mereka ingin sesuatu yang terbaik bagimu, mungkin mereka ingi kamu berbagi cerita dengan mereka, mereka ingin tahu apa yang menjadi kesedihan hatimu selama ini. Berceritalah saat kamu siap, ibu menunggumu."
Lagi-lagi ia menangis dan memeluk tubuh bi Siti dengan erat.
Tangisannya terdengar lebih keras, seakan melepaskan segala emosi dan kesedihannya selama ini. Semua dilepaskan saat itu juga.
"Maafkan aku bu..." Itulah kata-kata pertama yang ibu Siti dengar dari bibir kecil itu.
Ibu Siti tersenyum, matanya terasa hangat, dan air mata mulai menetes di pipinya, membasahi wajah tanpa make up itu.
Tidak ada kata-kata lanjutan hingga ia tertidur dipelukan ibu Siti.
"Ibu siti, maaf kalau selama ini aku selalu merepotkanmu, sampaikan maafku juga pada kakak-kakak yang sudah aku repotkan juga. Sejak pertama aku melihat ibu, seperti ada seorang malaikat yang menghampiriku, ibu terlihat cantik saat itu. Aku langsung menerima ajakan ibu, itu karena aku percaya, ibu adalah orang yang dikirim Tuhan untuk aku. Dan memang benar. Tuhan memang baik ya bu.
Bu, apa yang membuat aku diam selama ini adalah bukan karena hal yang aku simpan itu adalah hal yang paling indah dalam hidupku, sehingga aku enggan membaginya pada kalian. Aku adalah anak yang cerewet bu, kata ibuku. Dulu aku sangat ceria. Aku tidak bisa diam, aku senang bercerita. Mungkin ibu melihat tahi lalat yang ada di bibirku, itu adalah tandanya bu.
Sampai suatu hari suara, kecerewetanku , keceriaanku, dan mungkin masa depanku terenggut oleh karena sifatku itu bu. Suatu hari ada 2 orang bertubuh besar dan berpakaian hitam-hitam menghampiriku dan bertanya dimana ayah dan ibuku. Aku dengan polos menceritakan semuanya, menceritakan dimana ayah dan ibu berada. Dan kejadian yang tak aku duga terjadi, aku melihat mereka mendobrak pintu dan mulai membantai ayah dan ibuku secara kejam didepan mataku. Nasib baik atau buruk mereka meninggalkan ku menangis didepan rumah sendiri dan membiarkan aku hidup.
Sejak saat itu aku memilih untuk tetap diam, karena aku trauma untuk berbicara, karena dengan berbicara aku melihat ayah dan ibuku mati. Dan aku berjanji untuk tetap diam, apapun yang terjadi.
Mungkin kata maav kemarin adalah kata-kata terakhir dariku bu.
Oh iya bu, namaku Rani."
Sesaat setelahnya tumpahlah air mata Ibu Siti dengan derasny. Hatinya hancur sehancur hati si penulis surat itu. Semua tanya dalam hati bu Siti terjawab sudah. Sebuah tanda tanya besar yang selama ini menggelantung di hatinya. Sebuah pertanyaan yang di simpan selama 2 tahun lamanya. Semua, saat ini terjawab sudah, seiring dengan kepergiannya. Kepergian untuk selamanya.
Tubuh kecil yang tergantung di kipas angin tua itu diturunkan. Ajaib, ia tersenyum, senyumnya menunjukkan kelegaan, lega karena isi hatinya sudah tercurah semua. Lega karena ia sudah tidak harus menyimpan rahasia lagi, lega karena ia tidak harus berbicara lagi, lega karena janjinya untuk tetap diam tergenapi sudah. Dan lega karena sebentar lagi ia akan menjumpai kedua orang tuanya.
Selalu diam, tak bersuara.
Tak berbicara, sepatah katapun.
Hari-harinya diam, sunyi, mati.
Sama seperti hatinya.
Tapi tidak dengan masa depannya.
Itu yang dipercaya oleh ibu Siti, pemilik panti asuhan tua itu.
2 tahun lalu ibu Siti lah yang menemukannya menangis di pinggir jalan.
Tangisannya terdengar pelan dan pilu.
Sepilu perasaannya saat itu.
Hujan yang turun membuat tubuh kecilnya kedinginan, gemetar.
"Siapa namamu nak?" Ibu siti bertanya kepadanya seraya memayunginya.
Tapi dia hanya diam.
"Baiklah, ayo ikut ibu, nanti kamu sakit."
Digenggamnya tangan kecil itu dengan erat, tangan yang terasa sangat dingin dan mulai keriput karena kedinginan.
Sesekali bu Siti melihat anak itu, apa yang ia dapat hanya tatapan kosong dan ketakutan. Tatapan yang sangat menyayat hati bu Siti yang selembut kapas. Bu Siti hanya melempar senyum tulus kepadanya. Dan ia tetap diam.
Dua tahun setelah malam itu, dia tetap diam.
Bibir kecil itu tetap tidak berkata apapun, bibir kecil itu masih menyimpan misteri. Misteri yang tidak akan pernah ia katakan, entah sampai kapan.
"HEI BISU!"
Itulah yang sering dilontarkan dari para penghuni panti lain. Dan ia tetap diam.
Mereka tahu ia tidak bisu, mereka tahu ia hanya ingin diam.
Biar mereka berkata apa, lebih baik mereka mengenalku sebagai si bisu.
"Ibu tahu, ada sesuatu yang kamu simpan, tapi ibu tidak memaksamu untuk bercerita, mungkin itu hal paling indah dalam hidupmu sehingga kamu enggan membagikannya dengan kami semua." Kata bu Siti sambil membelai rambutnya lembut.
Terasa nyaman baginya, senyaman tidur dipangkuan ibu yang di rindukannya.
Matanya mulai mendung mendengar perkataan itu, seperti akan ada air yang jatuh dari kelopak matanya. Matanya berkaca-kaca.
"Atau mungkin itu adalah hal terburuk dalam hidupmu yang mungkin kamu terlalu takut untuk mengingatnya dan membaginya kepada kami?" Bati bu Siti.
Dan ia mulai menagis, seakan tahu apa yang ibu Siti fikirkan.
"HEI ANAK BISU!" Benta salah satu anak panti yang lebih senior.
"Tolong, kami sudah cukup repot di sini, jangan menabah beban kami, dengan terus melayani mu, apa kami harus mengetahui isi hatimu tentang apa yang kamu butuhkan? Setidaknya barbicaralah, kami tahu kamu tidak bisu!"
Dia tetap diam.
"HEI BISU, BODOH!" didorongnya tubuh kecil itu hingga terjatuh kelantai dengan pasrah.
Dan mulai didengarnya suara cemo'oh lain yang tidak bisa ia dengar lagi karena bertubi-tubi dilontarkan kepadanya.
Ia pun menangis, dan tanpa suara. Ia berlari, pergi, meninggalkan cemoohan yang masih terdengar sayup-sayup ditelinganya.
"Ibu tahu kamu tidak tahan dengan perlakuan kakak-kakamu, tapi mungkin mereka ingin sesuatu yang terbaik bagimu, mungkin mereka ingi kamu berbagi cerita dengan mereka, mereka ingin tahu apa yang menjadi kesedihan hatimu selama ini. Berceritalah saat kamu siap, ibu menunggumu."
Lagi-lagi ia menangis dan memeluk tubuh bi Siti dengan erat.
Tangisannya terdengar lebih keras, seakan melepaskan segala emosi dan kesedihannya selama ini. Semua dilepaskan saat itu juga.
"Maafkan aku bu..." Itulah kata-kata pertama yang ibu Siti dengar dari bibir kecil itu.
Ibu Siti tersenyum, matanya terasa hangat, dan air mata mulai menetes di pipinya, membasahi wajah tanpa make up itu.
Tidak ada kata-kata lanjutan hingga ia tertidur dipelukan ibu Siti.
"Ibu siti, maaf kalau selama ini aku selalu merepotkanmu, sampaikan maafku juga pada kakak-kakak yang sudah aku repotkan juga. Sejak pertama aku melihat ibu, seperti ada seorang malaikat yang menghampiriku, ibu terlihat cantik saat itu. Aku langsung menerima ajakan ibu, itu karena aku percaya, ibu adalah orang yang dikirim Tuhan untuk aku. Dan memang benar. Tuhan memang baik ya bu.
Bu, apa yang membuat aku diam selama ini adalah bukan karena hal yang aku simpan itu adalah hal yang paling indah dalam hidupku, sehingga aku enggan membaginya pada kalian. Aku adalah anak yang cerewet bu, kata ibuku. Dulu aku sangat ceria. Aku tidak bisa diam, aku senang bercerita. Mungkin ibu melihat tahi lalat yang ada di bibirku, itu adalah tandanya bu.
Sampai suatu hari suara, kecerewetanku , keceriaanku, dan mungkin masa depanku terenggut oleh karena sifatku itu bu. Suatu hari ada 2 orang bertubuh besar dan berpakaian hitam-hitam menghampiriku dan bertanya dimana ayah dan ibuku. Aku dengan polos menceritakan semuanya, menceritakan dimana ayah dan ibu berada. Dan kejadian yang tak aku duga terjadi, aku melihat mereka mendobrak pintu dan mulai membantai ayah dan ibuku secara kejam didepan mataku. Nasib baik atau buruk mereka meninggalkan ku menangis didepan rumah sendiri dan membiarkan aku hidup.
Sejak saat itu aku memilih untuk tetap diam, karena aku trauma untuk berbicara, karena dengan berbicara aku melihat ayah dan ibuku mati. Dan aku berjanji untuk tetap diam, apapun yang terjadi.
Mungkin kata maav kemarin adalah kata-kata terakhir dariku bu.
Oh iya bu, namaku Rani."
Sesaat setelahnya tumpahlah air mata Ibu Siti dengan derasny. Hatinya hancur sehancur hati si penulis surat itu. Semua tanya dalam hati bu Siti terjawab sudah. Sebuah tanda tanya besar yang selama ini menggelantung di hatinya. Sebuah pertanyaan yang di simpan selama 2 tahun lamanya. Semua, saat ini terjawab sudah, seiring dengan kepergiannya. Kepergian untuk selamanya.
Tubuh kecil yang tergantung di kipas angin tua itu diturunkan. Ajaib, ia tersenyum, senyumnya menunjukkan kelegaan, lega karena isi hatinya sudah tercurah semua. Lega karena ia sudah tidak harus menyimpan rahasia lagi, lega karena ia tidak harus berbicara lagi, lega karena janjinya untuk tetap diam tergenapi sudah. Dan lega karena sebentar lagi ia akan menjumpai kedua orang tuanya.
Apa Kabar Orang Yang Aku Suka?
Hallo...Apa kabar?
Kata itu yang akan terlintas pertama kali saat aku bertemu dia.
Entah kapan.
Kita sudah cukup lama tidak bertemu.
Dia sedang tugas luar kota.
1 minggu, 2 minggu, menurut kalian lama tidak?
Bagiku, orang yang sedang jatuh cinta jelas lama. Tidak bertemu sehari saja terasa sangat lama.
Apalagi dengan program "puasa" yang aku jalankan.
Tapi apa yang aku rasakan juga sama dengan yang ia rasakan?
Kalo menurutku sih tidak.
Menyedihkan.
Kenapa aku tahu tidak?
Kalo saja dia merasa seperti aku, pasti dia sudah memulai setidaknya mengirim SMS terlebih dahulu.
Aku menunggu, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 1 hari... Tidak ada.
Bukannya tidak mau memulai, hanya takut mengganggu.
Takut ia terganggu.
Kenapa tidak di coba? Mungkin dugaanku salah.
Tetap saja, aku takut mengganggu.
"Lupakan aku."
itu kata-katanya.
Enak saja, tidak semudah itu.
Aku sayang dia, orang yang berhasil membuatku membuka hatiku,
setelah tertutup cukup lama dan hanya untuk "dia".
Mungkin saja bisa, tapi tidak sekarang, besok, lusa, minggu depan, bulan depan atau mungkin tahun depan.
Tidak mudah untuk membunuh perasaanku, apalagi yang baru seumur jagung ini.
Mungkin akan lebih mudah, tapi aku menolak.
"Maaf..."
"Apa kabar orang yang aku suka?"
"Apa kabar orang yang menyuruhku melupakan perasaanku?"
"Bagaimana pekerjaanmu disana?"
Dia diam.
Aku pun diam.
Sekali lagi...
"Bagaimana perjalananmu?"
"Bagaimana keadaan di sana?"
"Bisa, tidak usah terlalu banyak bertanya?" Katanya.
Lagi-lagi.
"Maaf."
Walau aku tahu kamu baik-baik saja.
Tapi aku hanya sekedar ingin tahu.
"Apa kabar orang yang aku suka?"
Kata itu yang akan terlintas pertama kali saat aku bertemu dia.
Entah kapan.
Kita sudah cukup lama tidak bertemu.
Dia sedang tugas luar kota.
1 minggu, 2 minggu, menurut kalian lama tidak?
Bagiku, orang yang sedang jatuh cinta jelas lama. Tidak bertemu sehari saja terasa sangat lama.
Apalagi dengan program "puasa" yang aku jalankan.
Tapi apa yang aku rasakan juga sama dengan yang ia rasakan?
Kalo menurutku sih tidak.
Menyedihkan.
Kenapa aku tahu tidak?
Kalo saja dia merasa seperti aku, pasti dia sudah memulai setidaknya mengirim SMS terlebih dahulu.
Aku menunggu, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 1 hari... Tidak ada.
Bukannya tidak mau memulai, hanya takut mengganggu.
Takut ia terganggu.
Kenapa tidak di coba? Mungkin dugaanku salah.
Tetap saja, aku takut mengganggu.
"Lupakan aku."
itu kata-katanya.
Enak saja, tidak semudah itu.
Aku sayang dia, orang yang berhasil membuatku membuka hatiku,
setelah tertutup cukup lama dan hanya untuk "dia".
Mungkin saja bisa, tapi tidak sekarang, besok, lusa, minggu depan, bulan depan atau mungkin tahun depan.
Tidak mudah untuk membunuh perasaanku, apalagi yang baru seumur jagung ini.
Mungkin akan lebih mudah, tapi aku menolak.
"Maaf..."
"Apa kabar orang yang aku suka?"
"Apa kabar orang yang menyuruhku melupakan perasaanku?"
"Bagaimana pekerjaanmu disana?"
Dia diam.
Aku pun diam.
Sekali lagi...
"Bagaimana perjalananmu?"
"Bagaimana keadaan di sana?"
"Bisa, tidak usah terlalu banyak bertanya?" Katanya.
Lagi-lagi.
"Maaf."
Walau aku tahu kamu baik-baik saja.
Tapi aku hanya sekedar ingin tahu.
"Apa kabar orang yang aku suka?"
Kamis, 03 Maret 2011
Puasa
Belajar puasa,
Bukan puasa makan,
Bukan puasa minum,
Bukan puasa nahan hawa nafsu,
Pokoknya bukan.
Belajar puasa,
Buat ngilangin kebiasaan,
Biar nggak kecanduan,
Supaya nggak kejauhan.
Ditahan ya...
Belajar puasa,
Namanya belajar, nyiksa banget,
Nggak ngelakuin kebiasaan sehari-hari,
Tangan gatel banget,
Yang jelas gelisah.
Belajar puasa kali ini,
Gagal.
Tetep nggak bisa,
Nggak bisa sehari aja nggak SMS kamu,
Itungannya hampir berhasil,
Jam 23.30 cuma gara-gara ucapan
"Selamat tidur, Mimpi indah :)"
Kamu nggak keganggu kan sama SMS aku?
Karena itu tujuan aku puasa,
Supaya nggak ganggu kamu.
Bukan puasa makan,
Bukan puasa minum,
Bukan puasa nahan hawa nafsu,
Pokoknya bukan.
Belajar puasa,
Buat ngilangin kebiasaan,
Biar nggak kecanduan,
Supaya nggak kejauhan.
Ditahan ya...
Belajar puasa,
Namanya belajar, nyiksa banget,
Nggak ngelakuin kebiasaan sehari-hari,
Tangan gatel banget,
Yang jelas gelisah.
Belajar puasa kali ini,
Gagal.
Tetep nggak bisa,
Nggak bisa sehari aja nggak SMS kamu,
Itungannya hampir berhasil,
Jam 23.30 cuma gara-gara ucapan
"Selamat tidur, Mimpi indah :)"
Kamu nggak keganggu kan sama SMS aku?
Karena itu tujuan aku puasa,
Supaya nggak ganggu kamu.
"K" oh "K"
T: temen gw
G: Gw
N: Nanok
T: "udah keluar tuh satu lagi."
G: "Oke,thx."
(New tab, sia.MMTC.ac.id, user name, passowrd, KHS, gasal 2010/2011, lihat)
"MATALO.........!!!!!!!"
(angin dingin menerpa punggung, tangan gemeter, speechless, nganga, badan tiba2 panas, semua jadi ga menarik, mules...)
Langsung aja gw sms nanok (temen gw yang paling pertama terlintas di otak gw)
G: "Nok, nilai keluar lagi 1, username lo ma pass dong!"
N: (ngasih)
G: (New tab, sia.MMTC.ac.id, user name, passowrd, KHS, gasal 2010/2011, lihat)
"BUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA....!!!!!!"
Gw sms dia lagi...
G: "Nok mau protes kagak sama gw?Di mana lo?"
N: "Di kost, protes kenapa baoy?"
G: "Ya lo liat aja ndiri, lo rela nilai lo dapet K?hahahaha"
N: "Serius?Lo apa?"
G: "Gw C, tapi tetep gak terima, mao tanya aj...hehehe (Ngibul)
Iy lo liat aja ndiri!"
N: "Iya... Anjing (Tiiiiiiiiiiit) *sensor :)
Sumpah... Bangsat (tiiiiiiit) *sensor :)
Apa-apaan...Gw doang yang K?"
G: "Mana Gw tau. Kapan mau k kampus?"
N: "Sekarang..Piye?
G: "Oke, lo ke kost gw ya!"
Gak lama dia sms
N: "Men lo siap-siap!"
G: "Oke!"
Gak lama dia sms lagi
N: "Gw di depan!"
Gw keluar kamar
G: "Woy masuk dulu gw belom siap-siap...hehehe"
Nanok masuk marah-marah dikit masih gak terima dia dapet K.
Terus nanya kurang lebih gini.
N: "Lo dapet C aja protes."
G: "Gw tetep gak teerima aja, cuma mau tanya."
N: "Yaudah ayo cepet!"
G: "Santai siii.
Gw juga dapet K kok...hahahahahahaha...."
Tipuan lain demi nyelametin harga diri:
Via twitter:
allenlolongan AllenLololngan
ada yang cerita dapet nilai K, emang ada?
allenlolongan AllenLololngan
itu kenapa mba?RT @dephier: ada lho..RT @allenlolongan: ada yang cerita dapet nilai K, emang ada?
allenlolongan AllenLololngan
oh,gawat juga ya...RT @dephier: ga pernah masuk RT @allenlolongan: itu kenapa mba?RT @dephier: ada lho..RT @allenlolongan: ada yang cerita
allenlolongan AllenLololngan
nggak mba, temen cerita dia dpt KRT @dephier: km bgtu? RT @allenlolongan: oh,gawat juga ya...RT @dephier: ga pernah masuk RT @allenlolongan
Minggu, 27 Februari 2011
Takut Pacaran?
Barusan dapet ceramah dari temen,
isinya kurang lebih karena nggak bersyukur,
nggak bersyukur punya temen banyak,
nggak bersyukur punya keluarga harmonis,
nggak bersyukur bisa sekolah sampe tinggi,
nggak bersyukur bisa ketawa setiap hari,
nggak bersyukur sampe akhirnya ngeluh melulu,
Nggak bersyukur udah bisa nyari duit sendiri,
masalahnya 1, nggak punya pacar, dan gagal melulu.
KLASIK!
Oke, kata-katamu kena, kena banget. Makasih udah nyadarin.
Tapi tiba-tiba aneh. Kenapa?
Takut pacaran.
Buat apa punya pacar, tapi bikin kita jauh dari temen gara-gara lebih milih sama pacar?
Buat apa punya pacar, tapi keluarga berantakan?
Buat apa punya pacar, tapi kuliah berantakan gara-gara sibuk pacaran?
Buat apa punya pacar, tapi nggak bisa ketawa setiap hari sama temen-temen gara-gara banyak maslah sama pacar?
Buat apa punya pacar, tapi sama aja ngeluh tentang semua hal di atas?
Buat apa punya pacar, tapi bikin males ngapa-ngapain gara-gara lebih milih pacaran?
Tapi jujur, kalo itu semua udah lengkap, nggak bisa bohong kalo kita butuh pelelngkap hidup kita,
YUP, siapa lagi kalo bukan pasangan.
Makasih teman, udah ngingetin.
2 tahun pertama setelah rutinitas debat terakhir sama "dia".
isinya kurang lebih karena nggak bersyukur,
nggak bersyukur punya temen banyak,
nggak bersyukur punya keluarga harmonis,
nggak bersyukur bisa sekolah sampe tinggi,
nggak bersyukur bisa ketawa setiap hari,
nggak bersyukur sampe akhirnya ngeluh melulu,
Nggak bersyukur udah bisa nyari duit sendiri,
masalahnya 1, nggak punya pacar, dan gagal melulu.
KLASIK!
Oke, kata-katamu kena, kena banget. Makasih udah nyadarin.
Tapi tiba-tiba aneh. Kenapa?
Takut pacaran.
Buat apa punya pacar, tapi bikin kita jauh dari temen gara-gara lebih milih sama pacar?
Buat apa punya pacar, tapi keluarga berantakan?
Buat apa punya pacar, tapi kuliah berantakan gara-gara sibuk pacaran?
Buat apa punya pacar, tapi nggak bisa ketawa setiap hari sama temen-temen gara-gara banyak maslah sama pacar?
Buat apa punya pacar, tapi sama aja ngeluh tentang semua hal di atas?
Buat apa punya pacar, tapi bikin males ngapa-ngapain gara-gara lebih milih pacaran?
Tapi jujur, kalo itu semua udah lengkap, nggak bisa bohong kalo kita butuh pelelngkap hidup kita,
YUP, siapa lagi kalo bukan pasangan.
Makasih teman, udah ngingetin.
2 tahun pertama setelah rutinitas debat terakhir sama "dia".
Sabtu, 26 Februari 2011
Ungkapan Hati Orang Ketiga
Dulu aku pernah ada, tapi tidak sekarang.
Walau hanya menjadi yang ke3 tapi aku tetap ada, dan selalu disampingnya.
Kini aku bukan yang pertama, kedua atau bahkan yang ketiga.
Kini bahkan aku mati di ingatannya.
Dulu semua begitu indah, tapi tidak sekarang.
Walau hanya menjadi yang ketiga, tetap kurasa indah.
Karena hampir setiap hariku bersamanya.
Kini tidak lagi indah, semua musnah.
Dulu kuperjuangkan semuanya.
Demi untuk menjadi yang pertama, bukan lagi yang ketiga.
Aku merelakan segalanya demi untuk jadi satu-satunya.
Kini semua sia-sia.
Dulu aku cinta dia.
Walaupun aku tetap yang ketiga, selain mereka yang juga cinta dia.
Aku yakin akan perasaanku itu.
Kini…Aku tetap mencintai dia.
Ini hanya ungkapan hati orang yang putus asa.
Orang yang sudah dilupakan.
Tapi orang yang hatinya tetap.
Walaupun baginya semua sudah tidak mungkin.
Entah bodoh atau setia…
Yang jelas aku hampir menyerah…
(08/30/2010)
DUA
Malam Minggu ini sangat berbeda dari malam malam Minggu yang sebelumnya, entah kenapa, hati ini begitu bahagia, jantungku terus berdegup dengan kencang, seperti ingin meledak rasanya, keringat sebesar biji jagung terus mengalir dari dahiku, entah ada apa dengan diriku ini. Mungkin aku sedang mengalami yang disebut nervous, karena malam ini akan menjadi suatu malam yang istimewa dan tidak akan pernah aku lupakan.
Aku melaju perlahan dengan sepedah motor ku yang biasa kuberi nama “blekedet”, nama itu diberikan oleh seorang sahabatuku sewaktu SMA dulu. Kota ini terasa sangat indah malam ini, sangat ramai, berbeda dari malam yang lain, semua orang berpasang-pasangan, laki-laki yang mengendarai sepedah motor dan wanita duduk dibelakang dan memeluk kekasihnya dengan erat seakan tidak mau lepas. Batinku, malam ini pasti sangat hangat bagi mereka, padahal udara malam ini sangat dingin dan menusuk sampai ke tulang, karena semenjak siang tadi hujan turun dengan sangat lebat, seakan balas dendam pada kemarau yang sangat lama melanda. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka sambil berteriak dalam hati “sebentar lagi aku akan seperti kalian”.
Aku terus berjalan perlahan, aku mau menikmati tiap detik akhir dari kesendirianku, aku begitu optimis, aku yakin, aku pasti bisa. Perlahan tapi pasti dan sampailah aku didepan sebuah gerbagang besar. Entah kenapa nyaliku ciut seketika saat kupandangi gerbang itu, semua keberanian menghilang, jantungku mulai berdetak sangat kencang, seperti ada sesuatu yang menahanku untuk tidak masuk kedalam, sulit sekali rasanya untuk turun dari sepedah motorku dan melangkah menuju gerbang yang besar itu.
“Ah, aku sudah sampai di tempat ini, masak mau mundur begitu saja” batinku, aku terus meyakinkan diriku untuk masuk, kubulatkan tekadku. Perlahan aku mulai mendekat kea rah bel rumahnya, dengan tangan yang gemetar akhirnya aku tekan bel itu. Bel sudah kutekan, dan aku tahu apa artinya itu, aku harus tetap melangkah karena menurutku sudah terlanjur basah. Satu hal yang aku ingat yaitu pesan dari salah seorang temanku dia berkata “jangan bertele-tele, dia pasti sudah mengetahui tujuan kedatanganmu”. Aku manarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri.
Terdengar suara pintu terbuka, bunyinya semakin menambah rasa takutku, seperti ada sesuatu yang menyeramkan saja yang akan keluar dari dalamnya. Jantung ini berdetak semakin cepat, bila itu adalah sebuah bom mungkin akan segera meledak dan membuat tubuhku hancur berantakan, tetapi saat ini aku malah berharap demikian, karena aku tidak akan mengalami hal yang akan aku alami sesaat lagi. Hal yang sangat menakutkan bagiku. Aku menebak-nebak siapa yang akan segera kaluar, dan ternyata pembantunya, huff… lega rasanya bukan dia yang langsung keluar. Aku langsung bertanya, apakah dia ada di rumah. Perasaanku bercampur aduk saat aku dengar kalau dia sedang keluar dari tadi siang. Antara kecewa dan agak senang aku mendengar hal itu. Aku memutuskan untuk menunggu saja. Daan pembantunya mempersilahkan aku masuk dan duduk di bangku terasnya.
Ditemani oleh segelas teh hangat dan makanan kecil dimeja aku menunggunya kembali, berkali-kali aku melirik kearah jam tanganku, terasa waktu berjalan sangt lambat ditambah malam yang dingin ini. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih, aku semakin gelisah menunggu dan tidak sabar rasanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja, karena malam sudah semakin larut, sebenarnya aku sangat kecewa karena apa yang telah aku rencanakan telah gagal total, dan aku tidak jadi mengungkapkan perasaanku padanya. Aku berpamitan lalu keluar dari pintu gerbang rumahnya. Kunyalakan motorku dan dengan perasaan yang sangat kecewa aku mulai berjalan menjauh dari rumahnya. Tak berapa lama kulihat sebuah mobil sedan merah yang bagiku itu sebuah mobil yang mewah melintas dengan perlahan disampingku. Aku menghentikan laju motorku dan menoleh kearah mobil sedan itu berhenti. Ternyata mobil itu berhenti di depan rumahnya. Aku semakin penasaran dan perlahat mendekati rumahnya dengan terus waspada takut keberadaanku diketahi orang di mobil itu. Aku segera menuju sebuah pagar tanaman yang ada di sekita situ untuk melihat saiapa sebenarnya yang akan keluar dari mobil itu.
Aku terdiam, kakiku mulai lemas, jantung berdetak lebih cepat daripada yang tadi, seperti ada air mata yang akan jatuh dari kedua mataku ini saat aku melihat siapa yang keluar dari mobil itu Aku sangat kecewa karena apa yang aku impikan dan perasaan yang kupendam selama ini hancur dan musnah begitu saja. Sebuah penantian selama 2 tahun hancur pada tanggal 2 Februari 2002. Dan hujan mulai turun lagi dengan lebat.
(2/07/2010)
Aku Mau Kamu Percaya Bukan Tahu
Kayak kamu 'percaya' kalau kamu bisa,
dan kamu mulai berusaha keras,
dan akhirnya kamu 'tahu' kalau kamu bisa.
Kayak kamu 'percaya' kalau nilai kamu akan bagus,
dan kamu mulai belajar dengan giat,
sampai akhirnya kamu 'tahu' kalau nilai kamu memang bagus.
Kayak kamu 'percaya' sama janji seseorang,
dan kamu menunggu orang itu dengan sabar,
sampai akhirnya kamu 'tahu' kalau dia benar-benar datang buat kamu.
Kayak kamu 'percaya' Tuhan itu ada,
dan mungkin setelah kamu mati dan masuk surga,
kamu nggak akan percaya lagi kalo Tuhan itu ada,
tapi kamu 'tahu' kalau Tuhan itu memang ada.
Sama halnya dengan aku.
Aku ingin kamu percaya kalau aku sayang kamu,
sampai akhirnya aku buktiin lewat perbuatan aku ke kamu, dan aku berusaha untuk buktiin omonganku,
dan nanti kamu akan 'tahu' kalau aku sayang sama kamu.
Karena aku mau kamu 'percaya', bukan 'tahu'.
Sabtu, 19 Februari 2011
Count On Me
Intro: C
Ahahuh...
VERSE:
C Em
If you ever find yourself stuck in the middle of the sea
Am G F
I'll sail the world to find you
C Em
If you ever find yourself lost in the dark and you can't see
Am G F
I'll be the light to guide you
PRE-CHORUS:
Dm Em
Find out what we're made of
F G(one strum)
When we are called to help our friends in need
CHORUS:
C Em
You can count on me like one, two, three
Am G
I'll be there
F
And I know when I need it
C Em
I can count on you like four, three, two
Am G
And you'll be there
F
'cos that's what friends are s'posed to do
C
Oh yeah
Em
Ooh ooh ooh ooh ooh...
Am G
Ooh ooh ooh ooh ooh..
F G
Yeah yeah
VERSE 2:
If you're tossin' and you're turnin' and you just can't fall asleep
I'll sing a song beside you
And if you ever forget how much you really mean to me
Everyday I will remind you, oh
PRE-CHORUS:
Find out what we're made of
When we are called to help our friends in need
CHORUS:
You can count on me like one, two, three
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like four, three, two
And you'll be there
'cos that's what friends are s'posed to do
Oh yeah
Ooh ooh ooh ooh ooh...
Ooh ooh ooh ooh ooh...
yeah yeah
BRIDGE:
Dm Em Am G
You'll always have my shoulder when you cry
Dm Em F G
I'll never let go, never say good-bye, you know you can-
CHORUS:
-count on me like one, two, three
I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like four, three, two
And you'll be there
'cos that's what friends are s'posed to do
Oh yeah
Ooh ooh ooh ooh ooh...
Ooh ooh ooh ooh ooh...
You can count on me 'cos I can count on you!
(kenapa narok lagu ini?karena saya lagi belajar bawainlagu ini :)...sampah banget kan?hahaha)HP-nya nggak salah kok
HP-nya jadi korban lagi, HP-nya di jadiin bukti kalo gravitasi bumi itu ada.
Padahal HP-nya nggak salah.
Cuma isinya aja yang bikin emosi dan kebetulan suasana hati lagi panas.
Tapi sumpah, HP-nya nggak salah kok.
Padahal HP-nya nggak salah.
Cuma isinya aja yang bikin emosi dan kebetulan suasana hati lagi panas.
Tapi sumpah, HP-nya nggak salah kok.
Karena Cokelat Itu Tidak Bisa Berjalan Sendiri
Saya terlalu takut untuk mengantarnya.
Tapi cokelat itu tidak bisa berjalan sendiri.
Bahkan untuk sekedar meletakkan, lalu pergi.
Tetapi cokelat itu tidak bisa berjalan dan meletakkan dirinya sendiri.
Saya takut memberikannya.
Dan cokelat itu tetap disini,
kerena cokelat itu benar-benar tidak bisa berjalan sendiri.
Allen Say Hallo
O-llo...
kalian tentunya ingat salah satu ucapan dalam film Mega Mind, saat Mega Mind mengangkat telfon ini kan?hahaha...
Ini pertama kalinya gw nulis blog, norak emang, jaman sekarang baru kenal blog. Sebenernya udah dari dulu, tapi baru kepengen sekarang, gara-gara seorang temen gw yang udah duluan punya blog. Kasarannya, ikut-ikutan...
Blog saya ini gw kasih nama, "Little Space Of My Mind", kenapa?karena nantinya akan banyak berisi sampah-sampah nggak penting dari otak gw yang bakalan buang di sini. Semu itu adalah sebagian kecil hal-hal yang merusak dan mengganggu pikiran gw. Dulu gw nulis hal-hal kayak gitu di FB, tapi gw rasa FB bukan tempat yang aman, karena bakal di comment sama temen-temen gw. Mending kalo yang bener, kalo yang melenceng? Sakit hati doang yang ada.,,hehehe...
Oke acara pidatonya cukup sampe disini dulu ya. Bingung mau nulis apa lagi. Yang jelas selamat datang buat kalian, dan selamat memasuki "Little Space Of My Mind"...
Kalo suka sukur, kalo nggak ya gapapa.
Tapi mudah-mudahan suka, dan harus suka ya.... :)
Langganan:
Postingan (Atom)
