Jumat, 11 Maret 2011

Tersesat

Aku baru menyadarinya, aku tersesat.
Aku hilang arah, terlalu cepat memutuskan untuk belok ke kiri, padahal tujuanku ke kanan.
Waktu itu gelap, aku tidak bisa melihat jalan. Kabutnya tebal dan aku memang buta arah saat itu.
Aku hanya bisa melihat sebuah lampu yang berpijar indah di depanku, warnanya kuning cerah.
Aku pikir cahanya matahari, ternyata bukan, hanya sebuah lampu kecil.
Tetapi tetap saja lampu itu indah, aku seperti seekor laron yang terbang mendekati lampu itu.
Aku tidak ditarik, tetapi aku tertarik.
Aku mengikuti arah lampu itu saat ia berbelok ke kiri. Bukan ke kanan.

Awalnya sinar lampu itu terang. Terang sekali. Banyak harapan yang di berikan lampu itu, harapan akan tujuan yang jelas, pasti dan akhir dari jalan yang gelap ini, sebuah akhir indah.
Awalnya aku pikir di ujung sana akan ada gunung, pepohonan rindang, sebuah kolam dengan ikan yang banyak dan beberapa ekor hewan yang minum di tepi kolam itu, burung-burung yang berkicau, kupu-kupu warna-wari dan semua yang indah-indah yang bahkan tidak nyata.
Aku ikut cahaya itu, aku yakin pada cahaya itu, cahaya yang indah itu.

Lama aku terbuai dengan pijar cahaya itu.
Aku terus berjalan, tetapi terseok-seok akibat cahaya itu makin redup.
"Hei!! Jangan halangi aku!" Aku marah pada 2 kendaraan di depanku.
Yang satu sebuah mobil mewah, sebuah sedan yang sangat bagus dan mengkilat. Sedan yang orang sangat ingin memilikinya atau mobil lain ingin menjadi seperti dia.
Yang satu juga mewah, tetapi sedan pertama lebih mewah 2 tingkat diatasnya. Suara mesinnya bagus, merdu. Tetapi sedan itu mulai dilupakan akibat kesalahannya terhadap majikannya, jadi sedan itu tidak terawat.
Kelaksonku yang mengeluarkan suara jelek, butu dan aneh tidak dihiraukan.
Ajaib, mobil bututku bisa melaju dan melewati mereka. Mobil bututku hampir menang, dan aku bisa melihat cahaya kuning itu lagi. Terang. Harapan itu kembali datang. Imajinasi indah tetntang tempat tujuan itu kembali tergambar jelas di otakku.

1 mobil mewah terakhir mulai menepi akibat tidak kuat.
Hanya tinggal 1 sedan mewah yang masih berjalan. Jaraknya sangat dekat tetapi terasa jauh. Aneh.
Hingga akhirnya sedan itu ikut menepi. Tidak sanggup. Menyerah.

Aku mulai yakin pada lampu itu. Aku mulai yakin dengan arahnya. Aku ulai yakin dengan imajinasiku tadi.
Sampai akhirnya sebuah sedan bagus, suaranya halus, hanpir tidak terdengar dari situ kita kalau itu adalah mobil yang bagus sekali.
Sedan itu mendekat perlahan tanpa aku tahu kalau dia mulai menyalip mobil bututku.

Cahaya itu mulai redup.
Aku tahu pasti pandangan tertutup oleh sedan tanpa suara itu.
Aku hanya dapat melihat dari tembusan kaca depan sedan itu, sebuah kaca yang dilapisi oleh kaca film  yang berwana gelap. Aku hampir tidak dapat melihat isi di dalamnya. Gelap sekali.
Tapi itulah yang membuat sedan itu terlihat bagus dan penuh misteri buatku.

Cahaya itu pun semakiiiiiiiiiin redup.
Hampir tak terlihat lagi.
Dan ku lihat sedan itu sudah sampai di alam yang hanya ada di imajinasiku.
Hal terbaik yang tidak pernah aku bisa sampai di sana, dan tidak pernah bisa aku miliki.
Sebuah cahaya indah berwarna kuning yang memberiku sejuta harapan tentang landscape pemandangan yang indah. Tentang kehidupan yang lebih baik bila berada di sana. Atau malau sebaliknya bila aku berada di sana.
Itu yang tidak pernah aku tahu. Apa yang akan terjadi saat aku sampai.

Aku terlalu jauh melangkah.
Aku tidak melihat sebuah jurang yang menganga akibat kabut itu.
Jurang yang dalam dan gelap, dan mengerikan. Tidak ada di dalam bayanganku mengenai jurang ini. Ini diluar kendaliku.
Dan aku terjatuh, aku mengalami cidera yang parah, cidera yang aku rasa akan sembuh dalam waktu yang lama. Atau bahkan tidak akan pernah sembuh.
Aku terpuruk di dalamnya. Hampir mati. Tanpa cahaya kuning itu lagi. Aku hanya bisa mengungatnya.

Sudah terlalu lama aku berada di dasar jurang itu.
Kini aku berkata pada diriku sendiri. "Naik! Panjat tebing itu! Kamu bisa walaupun sulit!"
Aku mulai memanjat, centi demi centi aku meninggalkan dasar jurang.
Sulit memang, ditambah cidera ini yang belum sembuh sepenuhnya.
Tapi aku bisa "hampir" sampai di atas.

Dan saat kabut itu hilang, aku baru sadar, aku tersesat.
Dan aku tahu aku harus mencari cahaya lain yang dapat menuntunku keluar dari tempai ini.
Atau aku harus menanti cahaya yang akan menghampiriku?
Yang jelas aku tidak mau berlama-lama di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar