Sabtu, 05 Maret 2011

Anak Kecil Yang Selalu Diam

Dia diam.
Selalu diam, tak bersuara.
Tak berbicara, sepatah katapun.
Hari-harinya diam, sunyi, mati.
Sama seperti hatinya.
Tapi tidak dengan masa depannya.
Itu yang dipercaya oleh ibu Siti, pemilik panti asuhan tua itu.

2 tahun lalu ibu Siti lah yang menemukannya menangis di pinggir jalan.
Tangisannya terdengar pelan dan pilu.
Sepilu perasaannya saat itu.
Hujan yang turun membuat tubuh kecilnya kedinginan, gemetar.
"Siapa namamu nak?" Ibu siti bertanya kepadanya seraya memayunginya.
Tapi dia hanya diam.
"Baiklah, ayo ikut ibu, nanti kamu sakit."
Digenggamnya tangan kecil itu dengan erat, tangan yang terasa sangat dingin dan mulai keriput karena kedinginan.
Sesekali bu Siti melihat anak itu, apa yang ia dapat hanya tatapan kosong dan ketakutan. Tatapan yang sangat menyayat hati bu Siti yang selembut kapas. Bu Siti hanya melempar senyum tulus kepadanya. Dan ia tetap diam.

Dua tahun setelah malam itu, dia tetap diam.
Bibir kecil itu tetap tidak berkata apapun, bibir kecil itu masih menyimpan misteri. Misteri yang tidak akan pernah ia katakan, entah sampai kapan.
"HEI BISU!"
Itulah yang sering dilontarkan dari para penghuni panti lain. Dan ia tetap diam.
Mereka tahu ia tidak bisu, mereka tahu ia hanya ingin diam.
Biar mereka berkata apa, lebih baik mereka mengenalku sebagai si bisu.

"Ibu tahu, ada sesuatu yang kamu simpan, tapi ibu tidak memaksamu untuk bercerita, mungkin itu hal paling indah dalam hidupmu sehingga kamu enggan membagikannya dengan kami semua." Kata bu Siti sambil membelai rambutnya lembut.
Terasa nyaman baginya, senyaman tidur dipangkuan ibu yang di rindukannya.
Matanya mulai mendung mendengar perkataan itu, seperti akan ada air yang jatuh dari kelopak matanya. Matanya berkaca-kaca.
"Atau mungkin itu adalah hal terburuk dalam hidupmu yang mungkin kamu terlalu takut untuk mengingatnya dan membaginya kepada kami?" Bati bu Siti.
Dan ia mulai menagis, seakan tahu apa yang ibu Siti fikirkan.

"HEI ANAK BISU!" Benta salah satu anak panti yang lebih senior.
"Tolong, kami sudah cukup repot di sini, jangan menabah beban kami, dengan terus melayani mu, apa kami harus mengetahui isi hatimu tentang apa yang kamu butuhkan? Setidaknya barbicaralah, kami tahu kamu tidak bisu!"
Dia tetap diam.
"HEI BISU, BODOH!" didorongnya tubuh kecil itu hingga terjatuh kelantai dengan pasrah.
Dan mulai didengarnya suara cemo'oh lain yang tidak bisa ia dengar lagi karena bertubi-tubi dilontarkan kepadanya.
Ia pun menangis, dan tanpa suara. Ia berlari, pergi, meninggalkan cemoohan yang masih terdengar sayup-sayup ditelinganya.

"Ibu tahu kamu tidak tahan dengan perlakuan kakak-kakamu, tapi mungkin mereka ingin sesuatu yang terbaik bagimu, mungkin mereka ingi kamu berbagi cerita dengan mereka, mereka ingin tahu apa yang menjadi kesedihan hatimu selama ini. Berceritalah saat kamu siap, ibu menunggumu."
Lagi-lagi ia menangis dan memeluk tubuh bi Siti dengan erat.
Tangisannya terdengar lebih keras, seakan melepaskan segala emosi dan kesedihannya selama ini. Semua dilepaskan saat itu juga.
"Maafkan aku bu..." Itulah kata-kata pertama yang ibu Siti dengar dari bibir kecil itu.
Ibu Siti tersenyum, matanya terasa hangat, dan air mata mulai menetes di pipinya, membasahi wajah tanpa make up itu.
 Tidak ada kata-kata lanjutan hingga ia tertidur dipelukan ibu Siti.

"Ibu siti, maaf kalau selama ini aku selalu merepotkanmu, sampaikan maafku juga pada kakak-kakak yang sudah aku repotkan juga. Sejak pertama aku melihat ibu, seperti ada seorang malaikat yang menghampiriku, ibu terlihat cantik saat itu. Aku langsung menerima ajakan ibu, itu karena aku percaya, ibu adalah orang yang dikirim Tuhan untuk aku. Dan memang benar. Tuhan memang baik ya bu. 
     Bu, apa yang membuat aku diam selama ini adalah bukan karena hal yang aku simpan itu adalah hal yang paling indah dalam hidupku, sehingga aku enggan membaginya pada kalian. Aku adalah anak yang cerewet bu, kata ibuku. Dulu aku sangat ceria. Aku tidak bisa diam, aku senang bercerita. Mungkin ibu melihat tahi lalat yang ada di bibirku, itu adalah tandanya bu.
    Sampai suatu hari suara, kecerewetanku , keceriaanku, dan mungkin masa depanku terenggut oleh karena sifatku itu bu. Suatu hari ada 2 orang bertubuh besar dan berpakaian hitam-hitam menghampiriku dan bertanya dimana ayah dan ibuku. Aku dengan polos menceritakan semuanya, menceritakan dimana ayah dan ibu berada. Dan kejadian yang tak aku duga terjadi, aku melihat mereka mendobrak pintu dan mulai membantai ayah dan ibuku secara kejam didepan mataku. Nasib baik atau buruk mereka meninggalkan ku menangis didepan rumah sendiri dan membiarkan aku hidup.


Sejak saat itu aku memilih untuk tetap diam, karena aku trauma untuk berbicara, karena dengan berbicara aku melihat ayah dan ibuku mati. Dan aku berjanji untuk tetap diam, apapun yang terjadi.
Mungkin kata maav kemarin adalah kata-kata terakhir dariku bu.
Oh iya bu, namaku Rani."


Sesaat setelahnya tumpahlah air mata Ibu Siti dengan derasny. Hatinya hancur sehancur hati si penulis surat itu. Semua tanya dalam hati bu Siti terjawab sudah. Sebuah tanda tanya besar yang selama ini menggelantung di hatinya. Sebuah pertanyaan yang di simpan selama 2 tahun lamanya. Semua, saat ini terjawab sudah, seiring dengan kepergiannya. Kepergian untuk selamanya.
Tubuh kecil yang tergantung di kipas angin tua itu diturunkan. Ajaib, ia tersenyum, senyumnya menunjukkan kelegaan, lega karena isi hatinya sudah tercurah semua. Lega karena ia sudah tidak harus menyimpan rahasia lagi, lega karena ia tidak harus berbicara lagi, lega karena janjinya untuk tetap diam tergenapi sudah. Dan lega karena sebentar lagi ia akan menjumpai kedua orang tuanya.




1 komentar: