Seorang bapak tua yang sedang sakit keras, kesehariannya dihabiskan di atas tempat tidur.
Tidak ada harapan sembuh, ia tahu kapan ia akan mati, dokter pernah mengatakannya.
Selang-selang dan obat-obatan yang digunakannya bukan untuk menyembuhkan, hanya sekedar usaha untuk memperpanjang hidup beberapa bulan atau hari saja.
Suatu hari ia didatangi oleh seorang pemuka agama, ia bercerita tentang hidupnya selama ini.
"Saya sudah 70 tahun, dan saya sudah lupa kapan saya terakhir kali berdoa. Bahkan selama saya di tempat tidur untuk menghadapi ajal saya tidak pernah berdoa. Tolong ajarkan saya bagaimana berdoa." Kata bapak itu.
Lalu pemuka agama itu meletakkan satu buah kursi di depan bapak itu. "Ini, anggaplah Tuhan duduk di kursi ini, berbicaralah kepadanya, mintalah apapun yang kau inginkan, katakanlah semua kegelisahanmu, ungkapkan semua, anggap Dia adalah temanmu, kapanpun kamu butuh Dia, Dia akan duduk di kursi ini. Tapi satu syarat, berbicaralah dengan penuh keyakinan dan harapan."
Setelah itu pemuka agama tersebut pergi.
Hari berlalu, bapak tua itu melakukan apa yang dikatakan pemuka agama, siang malam ia menghadap ke kursi dan berbicara seakan ada orang yang duduk di situ. Kadang ia tertawa, kadang ia menangis. Ia mencurahkan seluruh isi hatinya, ketakutan akan kematian yang akan dia hadapi, dan memohon ampun atas segala kesalahannya.
Suatu hari pemuka agama itu datang lagi. Dia hendak duduk di kursi yang ada di hadapan bapak tua itu. "Ambillah kursi lain, itu untuk sahabatku, kapanpun dia akan datang, aku tidak mau saat ia datang tidak ada kursi untuknya." Pemuka agam itu menurutinya. Setelah berbincang cukup lama, pemuka agama itu minta izin keluar. Dan saat ia kembali, iam mendapati bapak itu sudah mati, kepalanya tergeletak di atas kursi yang ada di hadapannya. Segera pemuka agama itu memanggil seluruh keluarga yang menunggu du ruang tamu.
Dia berkat "Bapak kita sudah tiada, dia sudah pergi, dan aku berharap saat aku mati,aku bisa mati seperti dia, mati dipangkuan sahabatnya, Tuhan nya."