Malam Minggu ini sangat berbeda dari malam malam Minggu yang sebelumnya, entah kenapa, hati ini begitu bahagia, jantungku terus berdegup dengan kencang, seperti ingin meledak rasanya, keringat sebesar biji jagung terus mengalir dari dahiku, entah ada apa dengan diriku ini. Mungkin aku sedang mengalami yang disebut nervous, karena malam ini akan menjadi suatu malam yang istimewa dan tidak akan pernah aku lupakan.
Aku melaju perlahan dengan sepedah motor ku yang biasa kuberi nama “blekedet”, nama itu diberikan oleh seorang sahabatuku sewaktu SMA dulu. Kota ini terasa sangat indah malam ini, sangat ramai, berbeda dari malam yang lain, semua orang berpasang-pasangan, laki-laki yang mengendarai sepedah motor dan wanita duduk dibelakang dan memeluk kekasihnya dengan erat seakan tidak mau lepas. Batinku, malam ini pasti sangat hangat bagi mereka, padahal udara malam ini sangat dingin dan menusuk sampai ke tulang, karena semenjak siang tadi hujan turun dengan sangat lebat, seakan balas dendam pada kemarau yang sangat lama melanda. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka sambil berteriak dalam hati “sebentar lagi aku akan seperti kalian”.
Aku terus berjalan perlahan, aku mau menikmati tiap detik akhir dari kesendirianku, aku begitu optimis, aku yakin, aku pasti bisa. Perlahan tapi pasti dan sampailah aku didepan sebuah gerbagang besar. Entah kenapa nyaliku ciut seketika saat kupandangi gerbang itu, semua keberanian menghilang, jantungku mulai berdetak sangat kencang, seperti ada sesuatu yang menahanku untuk tidak masuk kedalam, sulit sekali rasanya untuk turun dari sepedah motorku dan melangkah menuju gerbang yang besar itu.
“Ah, aku sudah sampai di tempat ini, masak mau mundur begitu saja” batinku, aku terus meyakinkan diriku untuk masuk, kubulatkan tekadku. Perlahan aku mulai mendekat kea rah bel rumahnya, dengan tangan yang gemetar akhirnya aku tekan bel itu. Bel sudah kutekan, dan aku tahu apa artinya itu, aku harus tetap melangkah karena menurutku sudah terlanjur basah. Satu hal yang aku ingat yaitu pesan dari salah seorang temanku dia berkata “jangan bertele-tele, dia pasti sudah mengetahui tujuan kedatanganmu”. Aku manarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri.
Terdengar suara pintu terbuka, bunyinya semakin menambah rasa takutku, seperti ada sesuatu yang menyeramkan saja yang akan keluar dari dalamnya. Jantung ini berdetak semakin cepat, bila itu adalah sebuah bom mungkin akan segera meledak dan membuat tubuhku hancur berantakan, tetapi saat ini aku malah berharap demikian, karena aku tidak akan mengalami hal yang akan aku alami sesaat lagi. Hal yang sangat menakutkan bagiku. Aku menebak-nebak siapa yang akan segera kaluar, dan ternyata pembantunya, huff… lega rasanya bukan dia yang langsung keluar. Aku langsung bertanya, apakah dia ada di rumah. Perasaanku bercampur aduk saat aku dengar kalau dia sedang keluar dari tadi siang. Antara kecewa dan agak senang aku mendengar hal itu. Aku memutuskan untuk menunggu saja. Daan pembantunya mempersilahkan aku masuk dan duduk di bangku terasnya.
Ditemani oleh segelas teh hangat dan makanan kecil dimeja aku menunggunya kembali, berkali-kali aku melirik kearah jam tanganku, terasa waktu berjalan sangt lambat ditambah malam yang dingin ini. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih, aku semakin gelisah menunggu dan tidak sabar rasanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja, karena malam sudah semakin larut, sebenarnya aku sangat kecewa karena apa yang telah aku rencanakan telah gagal total, dan aku tidak jadi mengungkapkan perasaanku padanya. Aku berpamitan lalu keluar dari pintu gerbang rumahnya. Kunyalakan motorku dan dengan perasaan yang sangat kecewa aku mulai berjalan menjauh dari rumahnya. Tak berapa lama kulihat sebuah mobil sedan merah yang bagiku itu sebuah mobil yang mewah melintas dengan perlahan disampingku. Aku menghentikan laju motorku dan menoleh kearah mobil sedan itu berhenti. Ternyata mobil itu berhenti di depan rumahnya. Aku semakin penasaran dan perlahat mendekati rumahnya dengan terus waspada takut keberadaanku diketahi orang di mobil itu. Aku segera menuju sebuah pagar tanaman yang ada di sekita situ untuk melihat saiapa sebenarnya yang akan keluar dari mobil itu.
Aku terdiam, kakiku mulai lemas, jantung berdetak lebih cepat daripada yang tadi, seperti ada air mata yang akan jatuh dari kedua mataku ini saat aku melihat siapa yang keluar dari mobil itu Aku sangat kecewa karena apa yang aku impikan dan perasaan yang kupendam selama ini hancur dan musnah begitu saja. Sebuah penantian selama 2 tahun hancur pada tanggal 2 Februari 2002. Dan hujan mulai turun lagi dengan lebat.
(2/07/2010)
setelah hujan turun begitu lebat di tanggal 2 februari,bagaimana nasibmu?apakah jantung akan terus berdetak kencang?
BalasHapus...lanjutin donk len,pengen tau crita selanjutnya.
itu udah ending kok fen...emang gantung, sengaja...
BalasHapusdulu buat gituang pas masih galau-galaunya...hahaha
ayo aku mau baca endingnya niih..
BalasHapus